Pencarian jurnalis hilang Selat Sunda memasuki hari ketiga dengan penguatan armada laut yang signifikan. Tim SAR gabungan menambah sejumlah kapal, termasuk tiga kapal perang TNI Angkatan Laut, demi mengoptimalkan penyisiran di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, Pandeglang, Banten. Delapan orang—lima jurnalis dan tiga kru kapal—masih belum ditemukan setelah hilang kontak saat peliputan aktivitas gunung tersebut. Bagi pembaca di Jakarta, perkembangan ini penting karena Selat Sunda menjadi jalur laut strategis yang menghubungkan ibu kota dengan wilayah barat serta kerap dilalui nelayan dan media nasional.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, menjelaskan bahwa pengerahan kapal perang ditujukan untuk memperkuat operasi sekaligus membuka ruang penyisiran yang lebih luas. Pernyataan itu disampaikan di Pandeglang pada Kamis, 10 September 2026, seiring evaluasi kondisi angin dan arus yang memengaruhi arah pencarian.
Kapal perang dan unsur pendukung yang dikerahkan
Tiga kapal perang yang sudah bergabung dalam operasi adalah KRI Leuser-924, KRI Kerambit-627, dan KRI Lepu-861. Kehadiran kapal berukuran besar ini diharapkan mampu menempuh sektor yang lebih jauh dan bertahan lebih lama di tengah kondisi laut Selat Sunda yang dinamis.
Selain itu, TNI AL juga mengerahkan KAL Anyer I.3-64 serta RHIB Peucang dari Lanal Banten, dilengkapi KAL Siaga dari Lanal Lampung. Kombinasi unsur besar dan cepat ini memberi fleksibilitas: kapal perang menjaga cakupan luas, sementara unit lebih kecil menyisir celah pantai, pulau kecil, dan zona di dekat kawah laut Anak Krakatau.
Perluasan area ke utara Gunung Anak Krakatau
Pada tahap sebelumnya, fokus penyisiran banyak diarahkan ke sisi selatan dengan radius sekitar 20 nautical mile. Karena belum ada temuan, rencana berikutnya mempertimbangkan perluasan ke arah utara gunung. Al Amrad menekankan bahwa prediksi angin dan arus menjadi acuan utama sebelum sektor baru dibuka secara penuh.
Posisi terakhir aktivitas para jurnalis sebelum hilang kontak juga menjadi pertimbangan dalam memetakan jalur hanyut. Tim tidak hanya mengulang rute lama, tetapi menyesuaikan grid pencarian agar kemungkinan terbawa arus ke utara tidak terlewat.
Hasil penyisiran hari kedua dan sektor yang dilalui
Di hari kedua, operasi dibagi ke sejumlah sektor dengan sekitar sembilan unsur kapal dan tujuh Search and Rescue Unit (SRU). KN SAR Tetuka tercatat menyisir hingga 68,3 nautical mile, sedangkan KAL Anyer menempuh jarak sekitar 69,5 nautical mile. Wilayah yang dilalui meliputi Pulau Sebesi, Pulau Sebuku, Rakata, Pulau Panjang, hingga kawasan di sekitar Gunung Anak Krakatau.
KRI Leuser dan KRI Lepu juga menuntaskan sektor yang sudah ditetapkan. Hingga akhir hari kedua, belum ditemukan tanda-tanda keberadaan delapan orang yang dicari. Fakta ini mendorong komando operasi menambah daya jangkau dan menjaga ritme pencarian tanpa menurunkan kewaspadaan di sektor lama.
- Lima jurnalis dan tiga kru kapal masih dalam status hilang kontak
- Tiga kapal perang TNI AL memperkuat armada SAR gabungan
- Penyisiran selatan sudah mencapai radius sekitar 20 NM
- Perluasan ke utara Anak Krakatau disesuaikan angin dan arus
Implikasi bagi publik Jakarta dan pantauan lanjutan
Meski pusat kejadian berada di perairan Banten–Lampung, isu ini relevan bagi warga Jakarta yang mengikuti liputan kebencanaan dan aktivitas vulkanik Anak Krakatau. Banyak redaksi ibu kota memiliki jaringan peliputan di kawasan tersebut, sehingga keselamatan awak media dan kru kapal menjadi perhatian bersama. Informasi resmi dari Basarnas dan TNI AL tetap menjadi rujukan utama agar spekulasi di media sosial tidak mengaburkan fakta lapangan.
Penambahan armada pada hari ketiga menandai eskalasi operasional yang terukur: bukan sekadar menambah jumlah kapal, tetapi menata ulang sektor berdasarkan data arus, jarak tempuh unsur, dan titik aktivitas terakhir. Selama belum ada temuan, penyisiran di selatan dan utara diperkirakan berjalan beriringan dengan koordinasi ketat antarunsur laut.
Tim redaksi Seputar Jakarta terus memantau perkembangan pencarian di Selat Sunda. Publik diimbau menunggu keterangan resmi dari otoritas SAR dan menghindari penyebaran informasi yang belum terverifikasi terkait nasib delapan orang yang masih dicari.
Sumber: Liputan6.