Pembicaraan soal khodam dalam Islam kerap muncul di ruang diskusi keagamaan warga Jakarta, terutama saat isu makhluk gaib disinggung di pengajian atau media daring. Banyak yang bertanya: apakah khodam benar-benar ada, dari mana asalnya, dan bagaimana pandangan syariat menempatkannya. Artikel ini merangkum penjelasan yang beredar di literatur dan ulasan keislaman tanpa mengada-ada peristiwa baru.
Secara istilah, khodam digambarkan sebagai pembantu atau pendamping dari alam gaib. Di kalangan masyarakat Jawa, konsep serupa sering disebut parewangan. Makhluk tersebut diyakini bisa berasal dari golongan jin maupun malaikat, lalu berinteraksi dengan manusia setelah proses spiritual tertentu.
Asal-usul istilah dan kepercayaan lama
Kepercayaan terhadap hal-hal gaib sudah lama hidup berdampingan dengan manusia. Mitos, ritual, dan keyakinan budaya sering menyatu dalam praktik sehari-hari. Mohd Yakub, dalam buku berjudul “Sejarah Amalan Sihir Di Zaman Para Nabi Menurut Sumber Tafsir Dan Hadith”, mencatat bahwa umat manusia sejak dulu membangun keyakinan dari dimensi gaib, bukan sekadar cerita, melainkan bagian dari cara hidup.
Dalam sejarah Islam, disebut pula kisah Nabi Sulaiman yang mengumpulkan kitab-kitab sihir lalu dikuburkan dalam peti agar tidak dihampiri setan dan kerabatnya. Catatan ini sering dikaitkan sebagai latar bahwa manusia sejak dulu mencari keistimewaan lewat jalan yang beragam, termasuk mendekatkan diri kepada Allah.
Khodam dari malaikat dan dari jin
Ulasan keislaman membedakan dua jalur perolehan khodam. Dari bangsa malaikat, khodam digambarkan bisa hadir karena taqarrub kepada Allah melalui cara yang disyariatkan: membaca Al-Qur’an, berzikir, serta riyadah. Kedatangannya diyakini atas izin Allah, bukan hasil paksaan manusia.
Salah satu rujukan yang sering disebut adalah malaikat Hafadhoh atau malaikat penjaga. Mereka digambarkan sebagai tentara yang tidak terlihat. Menurut sebuah riwayat yang dikutip dalam pembahasan ini, jumlah mereka mencapai 180 malaikat. Sementara dari jalur jin, interaksi dihubungkan dengan kemampuan jin berkomunikasi dengan manusia setelah latihan spiritual tertentu.
Riyadah, semedi, dan batas syariat
Interaksi dengan makhluk gaib, menurut penjelasan yang beredar, bisa diperoleh lewat riyadah atau semedi hingga makhluk tersebut menjadi semacam peliharaan yang membantu di luar nalar biasa. Namun titik tekannya tetap pada bertaqarrub kepada Allah. Pertolongan diyakini datang melalui media yang Allah kehendaki, bisa malaikat atau jin yang kemudian disebut khodam.
Bagi pembaca di ibu kota, penting memisahkan rasa ingin tahu budaya dari praktik yang menyimpang. Pendekatan yang aman adalah menempatkan pembahasan ini sebagai pengetahuan, bukan undangan bereksperimen dengan hal gaib di luar tuntunan agama. Diskusi di masjid, majelis taklim, atau forum warga Jakarta biasanya lebih menekankan ibadah resmi ketimbang mengejar “pendamping” luar biasa.
Apa yang perlu dipahami warga urban
Ringkasnya, khodam dalam wacana Islam digambarkan sebagai pembantu gaib yang bisa berasal dari malaikat atau jin. Perolehan lewat jalur malaikat dikaitkan dengan ibadah yang syar’i, sedangkan jalur jin lebih dekat pada riyadah intensif. Sejarah dan literatur tafsir-hadis dipakai untuk menjelaskan bahwa ketertarikan manusia pada keistimewaan gaib sudah ada sejak lama.
- Khodam = pembantu/pendamping gaib (parewangan di istilah Jawa).
- Sumber: golongan malaikat atau jin.
- Jalur syar’i: Al-Qur’an, zikir, riyadah, taqarrub.
- Rujukan sejarah: catatan Mohd Yakub dan kisah Nabi Sulaiman terkait kitab sihir.
Pemahaman yang jernih membantu menghindari kesalahpahaman di tengah hiruk-pikuk informasi digital. Alih-alih mencari sensasi, pembaca dapat menjadikan topik ini pengingat bahwa dalam Islam, pertolongan hakiki bersumber dari Allah, sementara makhluk gaib hanya media jika memang diizinkan-Nya. Sikap kritis dan rujuk kepada ulama tetap menjadi filter terbaik di lingkungan metropolitan seperti Jakarta.
Dengan bekal ini, pertanyaan “apa itu khodam” terjawab sebagai konsep pembantu gaib dalam wacana keislaman, lengkap dengan pembedaan asal malaikat dan jin serta kerangka taqarrub yang sering disebut para penulis topik tersebut.
Sumber: Sindo News.