Kebijakan retribusi Lokbin Kramat Jati yang digratiskan selama enam bulan menjadi angin segar bagi pedagang yang dipindahkan seiring penataan kawasan pasar di Jakarta Timur. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan iuran lokasi binaan tidak dipungut pada masa awal adaptasi, agar para pedagang tetap bisa mencari nafkah tanpa beban tambahan.
Keputusan itu disampaikan langsung di kawasan Pasar Kramat Jati dan dikutip pada Rabu, 2 September 2026. Pemerintah provinsi menekankan bahwa penataan ruang publik dan fungsi jalan tetap berjalan, namun hak pedagang untuk berjualan di lokasi pengganti tetap dijamin.
Alasan pembebasan iuran bagi pedagang relokasi
Pramono menjelaskan, pemindahan usaha ke tempat baru jarang sekali berjalan mulus di minggu-minggu awal. Pelanggan perlu menyesuaikan rute belanja, stok harus ditata ulang, dan biaya operasional sering naik sementara omzet belum stabil.
Dengan membebaskan retribusi Lokbin Kramat Jati, Pemprov DKI ingin memberi ruang napas finansial. “Selain memberikan ruang untuk para pedagang bisa mencari nafkah sekaligus mengembalikan fungsi jalan dan ruang publik, maka untuk tempat ini, Lokbin yang ada di Kramat Jati bagi para pedagang, selama 6 bulan kami beri retribusi atau iurannya kami gratiskan,” ujarnya.
Besaran retribusi yang dihemat pedagang
Nilai retribusi Lokbin yang berlaku mencapai Rp180.000 per bulan, atau setara Rp6.000 per hari. Dalam skema gratis enam bulan, setiap pedagang yang mendapat fasilitas tersebut terbebas dari kewajiban sekitar Rp1,08 juta.
Angka itu terbilang berarti bagi pelaku usaha mikro di pasar tradisional, terutama mereka yang menjual ikan, kue, atau kebutuhan harian dengan margin tipis. Penghematan iuran diharapkan bisa dialihkan ke modal dagang, perbaikan etalase, atau biaya transportasi stok selama masa peralihan.
Lokasi penempatan pedagang di sekitar Kramat Jati
Dalam skema relokasi, Pemprov DKI menempatkan pedagang ke beberapa titik yang masih berada di koridor timur Jakarta agar jejaring pelanggan tidak sepenuhnya putus. Rincian penempatan yang diumumkan mencakup:
- 331 pedagang di Pasar Kramat Jati Sektor 7
- 193 pedagang ikan di Lokbin Kramat Jati
- 45 pedagang kue di Lokbin Cililitan
- 45 pedagang lainnya di pasar yang dikelola Pasar Jaya
Sebagian pedagang belum mendapat lapak final. Pemerintah daerah menyatakan masih menyiapkan lokasi tambahan tidak jauh dari kawasan Pasar Kramat Jati agar kekurangan tempat segera tertutupi.
Perbaikan fasilitas pendukung di lokasi baru
Selain keringanan iuran, Pramono menyinggung perbaikan teknis yang menyertai relokasi. Pengaturan saluran air akan dibenahi, sirkulasi udara diperbaiki, dan kipas angin dipasang di area berjualan agar kenyamanan pembeli dan pedagang meningkat.
Langkah itu dinilai penting karena keluhan di masa awal pindahan sering berkaitan dengan kondisi fisik lapak, bukan semata soal jarak. Jika lingkungan berjualan lebih tertata, daya tarik pasar pengganti diharapkan cepat pulih di mata warga Jakarta Timur dan sekitarnya.
Bagi pembaca di Jakarta, kebijakan ini menandai pendekatan penataan pasar yang mengombinasikan penertiban kawasan dengan perlindungan usaha mikro. Selama enam bulan ke depan, efektivitas fasilitas gratis dan kesiapan lokasi tambahan akan menjadi tolok ukur apakah pedagang benar-benar mampu bertahan di tempat baru tanpa kehilangan mata pencaharian.
Sumber: Liputan6.