Upaya memperkuat mangrove Kubu Raya kembali digelar di pesisir Kalimantan Barat. PT Angkasa Pura Indonesia melalui Kantor Cabang Bandara Internasional Supadio menanam 14.000 pohon bakau di Desa Sungai Kupah, Kabupaten Kubu Raya, sebagai bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan. Langkah itu menyasar pemulihan ekosistem pantai sekaligus peluang ekonomi warga sekitar kawasan wisata alam.
Bagi pembaca di ibu kota, isu ini relevan karena bandara dan kawasan pesisir saling terkait dalam rantai transportasi serta target pengurangan emisi. Keberhasilan rehabilitasi bakau di daerah operasional bandara menjadi contoh aksi lingkungan yang bisa diikuti kawasan lain, termasuk wilayah pantai utara Jawa yang akrab dengan warga Jakarta.
Lokasi penanaman di Pelangi Kapuas Park
Kegiatan dipusatkan di Ekowisata Pelangi Kapuas Park, Kecamatan Sungai Kakap. Kawasan itu dipilih karena memiliki potensi sebagai destinasi edukasi mangrove yang dikelola bersama masyarakat setempat. Menurut Deputy Regional Human Capital & Business Support Kantor Regional VI PT Angkasa Pura Indonesia, Muhamad Haikal, penanaman merupakan wujud komitmen pelestarian lingkungan di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Haikal menekankan bahwa program diarahkan untuk menjaga ekosistem pesisir, menahan abrasi, serta mendukung pengurangan emisi karbon di Kabupaten Kubu Raya. Ia menambahkan bahwa kehadiran bandara diharapkan memberi dampak ekonomi sekaligus manfaat kelestarian alam dan pemberdayaan warga lokal, bukan hanya aktivitas operasional penerbangan.
Bagian dari InJourney Green-Fokus Alam
Penanaman mangrove Kubu Raya ini terhubung dengan implementasi program InJourney Green-Fokus Alam. Skema tersebut mendorong aksi lingkungan berkelanjutan di sekitar fasilitas yang dikelola perusahaan. Kolaborasi melibatkan pemerintah daerah, instansi teknis, dan tokoh masyarakat agar hasilnya tidak berhenti pada seremoni tanam pohon.
Sejumlah pihak hadir dalam kegiatan, antara lain perwakilan Balai Pengelolaan Ekosistem Mangrove dan Gambut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kubu Raya, Camat Sungai Kakap, serta Kepala Desa Sungai Kupah. Sinergi lintas lembaga dinilai penting agar perawatan bibit dan monitoring kawasan berjalan setelah penanaman selesai.
Manfaat ekologi dan peluang wisata warga
Selain memulihkan fungsi ekologis pantai, ribuan pohon bakau diharapkan memperkaya daya tarik Pelangi Kapuas Park sebagai ruang edukasi dan wisata alam. Peningkatan kunjungan wisatawan lokal dapat membuka kesempatan usaha bagi warga, mulai dari jasa pemandu hingga usaha kecil di sekitar jalur mangrove.
Haikal menyebut penanaman 14.000 pohon bukan sekadar penghijauan singkat, melainkan investasi jangka panjang bagi ekosistem pesisir dan kesejahteraan masyarakat. Keterlibatan warga dalam pengelolaan kawasan bakau juga diharapkan semakin kuat agar manfaat sosial tetap terjaga seiring pertumbuhan vegetasi.
- Menahan abrasi dan memperkuat garis pantai
- Mendukung penyerapan karbon di kawasan pesisir
- Memperkuat daya tarik ekowisata berbasis masyarakat
- Membuka ruang kolaborasi pemerintah, BUMN, dan desa
Komitmen TJSL yang berkelanjutan
PT Angkasa Pura Indonesia menegaskan akan melanjutkan program TJSL yang inklusif dan memberi nilai tambah bagi komunitas di sekitar wilayah operasional. Model seperti mangrove Kubu Raya dinilai dapat menjadi rujukan praktik baik: aksi lingkungan terukur, lokasi jelas, serta tujuan sosial-ekonomi yang menyatu dengan pelestarian alam.
Dengan 14.000 bibit yang sudah ditanam di Sungai Kupah, tantangan berikutnya adalah perawatan, pemantauan pertumbuhan, dan integrasi kawasan ke dalam rute edukasi wisata. Jika pengelolaan bersama masyarakat berjalan konsisten, benteng hijau pesisir Kubu Raya berpeluang memberi manfaat ekologi sekaligus ekonomi dalam jangka panjang.
Informasi kegiatan tersebut dilaporkan pada Selasa, 1 September 2026, dan menjadi catatan penting bagi publik yang mengikuti isu rehabilitasi pesisir serta peran badan usaha dalam aksi iklim di tingkat daerah.
Sumber: Liputan6.