Warga Jakarta yang akrab dengan kemacetan dan manuver mendadak di jalan raya mungkin penasaran: di mana posisi Indonesia dalam peta global pengemudi agresif? Sebuah survei terbaru platform sewa mobil Discovercars.com memetakan negara-negara yang paling sering dikeluhkan karena perilaku ugal-ugalan di belakang kemudi. Hasilnya menempatkan beberapa destinasi wisata populer di puncak daftar, sementara nama Indonesia tidak muncul dalam peringkat utama tersebut.
Temuan ini menarik dibahas di ibu kota karena pola berkendara di jalan arteri Jakarta kerap menjadi bahan perbincangan sehari-hari. Meski survei bersifat global dan berbasis persepsi responden, data resmi yang dirilis memberi gambaran perbandingan antarnegara tanpa mengklaim peringkat untuk Indonesia.
Italia memimpin dengan keluhan tertinggi
Italia menduduki peringkat pertama. Sebanyak 23 persen responden mengaku pernah menghadapi perilaku mengemudi yang tidak menentu atau agresif di negara itu. Padahal Italia dikenal luas sebagai tujuan liburan dengan seni, pemandangan ikonik, dan kuliner unggulan. Aspek jalan raya dan etiket pengemudi justru menjadi catatan kurang memuaskan menurut hasil jajak pendapat tersebut.
Bagi wisatawan yang terbiasa menyewa mobil, angka tersebut menjadi peringatan praktis: keindahan destinasi tidak selalu sejalan dengan kenyamanan berkendara. Survei menempatkan pengalaman negatif di jalan sebagai faktor yang cukup menonjol di semenanjung Italia.
Inggris dan Amerika Serikat menyusul
Posisi kedua ditempati Inggris dengan 11 persen responden melaporkan sikap agresif di jalan. London disebut sebagai salah satu kota yang paling sering muncul dalam keluhan. Citra perbukitan hijau dan kenyamanan kendaraan di negeri itu ternyata tidak menghapus persepsi soal tekanan lalu lintas di kawasan urban.
Amerika Serikat berada di urutan ketiga dengan 9 persen. Skala jaringan jalan yang luas dan volume kendaraan tinggi di sejumlah kota besar menjadi konteks yang sering dikaitkan dengan intensitas interaksi antar pengemudi, meski survei menekankan persentase keluhan agresivitas secara keseluruhan.
Prancis, Australia, Spanyol, dan Turki
Prancis dan Australia masing-masing mencatat 5 persen. Di posisi berikutnya, Spanyol dan Turki berada setara dengan 4 persen responden yang menyebut tingkat agresi tertinggi di jalan raya kedua negara itu. Daftar ini memperlihatkan bahwa keluhan tidak hanya terpusat di satu benua, melainkan tersebar di Eropa, Amerika Utara, dan Oceania.
Untuk pembaca di Jakarta, perbandingan lintas negara ini bisa menjadi cermin: isu etiket berkendara bersifat universal, meski bentuk pelanggarannya berbeda-beda sesuai kultur lokal dan kepadatan lalu lintas.
Perilaku di jalan yang paling menjengkelkan
Selain peringkat negara, survei mengungkap kebiasaan yang paling mengganggu sesama pengemudi. Tidak menyalakan lampu sein saat berbelok menjadi keluhan teratas dengan 56 persen. Membuntuti kendaraan di depan terlalu dekat disorot oleh 46 persen responden.
Mengemudi lambat di jalur yang semestinya untuk menyalip dikeluhkan 43 persen, sementara pengereman mendadak disebut 20 persen. Urutan ini menunjukkan bahwa komunikasi antar pengemudi—lewat sein, jarak aman, dan konsistensi kecepatan—lebih sering menjadi sumber frustasi ketimbang sekadar kecepatan tinggi.
- Tidak memakai lampu sein saat belok: 56 persen
- Membuntuti terlalu dekat: 46 persen
- Melambat di jalur menyalip: 43 persen
- Pengereman mendadak: 20 persen
Di lingkungan metropolitan seperti Jakarta, kebiasaan menyalakan sein dan menjaga jarak aman sering menjadi topik kampanye keselamatan. Data global di atas mempertegas bahwa keluhan serupa muncul di banyak negara, terlepas dari status Indonesia yang tidak masuk lima besar daftar agresivitas versi survei ini.
Secara keseluruhan, pemetaan Discovercars.com menegaskan Italia sebagai negara dengan proporsi keluhan pengemudi agresif tertinggi, diikuti Inggris dan Amerika Serikat, lalu Prancis, Australia, serta Spanyol dan Turki. Indonesia tidak tercantum dalam jajaran tersebut berdasarkan ringkasan temuan yang dipublikasikan. Bagi pengendara dan pemangku kepentingan transportasi di ibu kota, angka perilaku menjengkelkan—terutama soal lampu sein dan jarak aman—tetap relevan sebagai pengingat etiket di jalan raya sehari-hari.
Sumber: Sindo News.