Banyak warga Jakarta yang aktif beribadah masih gelisah saat doa belum terkabul sesuai jadwal harapan. Tekanan kerja, biaya hidup, dan budaya serba instan membuat sebagian orang mempertanyakan manfaat memohon kepada Allah. Padahal dalam tradisi Islam, doa adalah ibadah agung yang menegaskan kelemahan hamba sekaligus kekuasaan Tuhan, bukan sekadar transaksi permintaan.
Guru Besar UIN Raden Intan Lampung, Koderi, menguraikan persoalan ini dengan merujuk hikmah Imam Ibnu Athaillah as-Sakandari. Intinya: keterlambatan pemberian jangan sampai memicu putus asa, sebab Allah menjamin ijabah pada apa yang Dia pilihkan dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan semata pada pilihan serta tempo manusia.
Doa sebagai Inti Penghambaan, Bukan Alat Paksa
Rasulullah SAW menegaskan bahwa doa adalah ibadah itu sendiri. Nilai utamanya terletak pada pengakuan ketergantungan, bukan hanya pada tercapainya daftar keinginan. Firman Allah dalam QS. Ghafir ayat 60 memang memuat janji memperkenankan doa, namun janji itu dibaca dalam kerangka ilmu dan hikmah Allah yang sempurna.
Ulama seperti Al-Qusyairi memaknai doa sebagai penampakan kefakiran diri di hadapan Allah. Syekh Abdul Qadir al-Jailani menambahkan agar pemohon tidak memaksakan pilihan pribadi, melainkan menyerahkan ikhtiar pemilihan kepada Yang Maha Mengetahui maslahat hamba.
Tiga Bentuk Ijabah yang Sering Dilupakan
Pemahaman sempit menyamakan ijabah hanya dengan terwujudnya permintaan secara harfiah. Hadis riwayat Ahmad menjelaskan: doa muslim yang bebas dari dosa dan pemutusan silaturahim akan dibalas salah satu dari tiga cara—disegerakan di dunia, disimpan untuk akhirat, atau diganti dengan penolakan keburukan yang setara.
Dengan demikian, tidak ada doa yang sia-sia. Yang berbeda hanyalah wujud pengabulannya. Kesadaran ini menolong jamaah di masjid-masjid ibu kota agar tidak mengukur dekatnya Allah semata dari cepatnya “hasil” yang tampak.
Allah Lebih Tahu, Manusia Sering Keliru Meminta
QS. Al-Baqarah ayat 216 mengingatkan bahwa manusia bisa membenci sesuatu yang justru baik, atau menyukai yang ternyata buruk. Ilmu Allah meliputi masa lalu, kini, dan depan; pengetahuan hamba terbatas. Karena itu, maqam ridha—menerima keputusan Allah dengan hati lapang setelah usaha dan doa maksimal—dipandang Al-Ghazali sebagai pintu agung, semacam surga dunia bagi ahli ibadah.
Ibn Qayyim al-Jauziyyah menegaskan: siapa mengenal Tuhannya akan yakin bahwa pilihan Allah lebih baik daripada pilihannya sendiri. Ridha bukan berarti berhenti berdoa; justru doa tetap sungguh-sungguh, hasilnya dilimpahkan kepada-Nya.
Bahaya Tergesa dan Budaya Instan di Kota Besar
Allah melarang berputus asa dari rahmat-Nya. Hadis Bukhari-Muslim memperingatkan bahwa doa terus diijabah selama pemohon tidak berkata, “Sudah berdoa, belum dikabulkan.” Ketidaksabaran justru menghalangi keberkahan.
Di lingkungan urban seperti Jakarta, pola pikir instan dari teknologi sering terbawa ke ranah spiritual. Doa diharapkan langsung mengubah keadaan sesuai skenario pribadi. Ketika tidak terjadi, muncul kekecewaan hingga krisis keyakinan. Hikmah Ibnu Athaillah menawarkan paradigma lain: keberhasilan doa diukur dari semakin dekatnya hati kepada Allah dan semakin kokohnya percaya pada hikmah-Nya, bukan dari kesesuaian hasil dengan daftar keinginan.
Pada akhirnya, memohon sambil bertawakal mendidik jiwa agar tetap khusyuk, sabar, dan ridha. Ijabah pasti datang—dalam bentuk, waktu, dan kadar yang paling maslahat menurut Yang Maha Mengetahui—selama hamba tidak berputus asa dan tidak menjadikan doa sebagai alat memaksa kehendak Tuhan.
Sumber: Republika.